Jakarta – Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi tak menyangka dinamika sepakbola Indonesia bakal begitu rumit. Dia bilang hal ini menjadi bagian evaluasinya di masa akan datang.

Setahun sudah Edy Rahmayadi memimpin PSSI. Dalam perjalanannya, organisasi yang dipimpinnya begitu banyak dinamika yang terjadi.

Pengamat sepakbola Indonesia, Akmal Marhali, yang juga koordinator SOS (Save our Soccer), mengatakan selama satu tahun Edy bertugas masih menyisakan banyak masalah. Salah satunya adalah ketidakjelasan regulasi di kompetisi sepakbola tanah air, seperti diadakannya play-off di Liga 2.

SOS menyebut kompetisi musim ini cacat lantaran banyaknya pelanggaran regulasi yang dilakukan baik oleh operator kompetisi maupun PT Liga Indonesia Baru maupun peserta. Teranyar, terkait munculnya kasus Mitra Kukar yang dihukum kalah tiga gol tanpa balas dari Bhayangkara FC karena memainkan marquee player Mamadou Sissoko, yang dihukum larangan dua kali tampil, oleh Komisi Disiplin (Komdis PSSI).

Edy pun menanggapi dinamika sepakbola yang terjadi belakangan ini menjadi hal-hal yang tidak ia duga sebelumnya. “Karena saya baru masuk ke PSSI ini, saya tidak tahu sampai sepelik ini. Saya berpikir murni ini adalah olahraga, ini adalah pembinaan olahraga, seharusnya lebih (menjunjung nilai) sportivitas dari kegiatan-kegiatan yang lain,” kata Edy kepada detikSport, Sabtu (11/11/2017).

“Orang memaksakan kehendak dengan berbagai cara untuk menjadi nomor satu. Itu yang salah. Pertandingan itu memang harus nomor satu tetapi sportivitas adalah yang utamanya. Poinnya ke depan PSSI akan lebih tegas lagi. Kami benahi regulasi-regulasi yang dimanfaatkan dan menjadi bias. Ini yang akan kami pastikan dan kami kembalikan ke porsinya,” tutur dia.

Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat ini, juga turut merespons soal perubahan regulasi pemain U-23 yang terjadi pada pada awal-awal kompetisi Liga 1, sampai kemudian PSSI dinilai tidak konsisten dengan aturan yang dibuatnya sendiri.

“Siapa yang bilang. Tidak ada yang bilang seperti itu ke orang yang tidak mengerti. Itu pasti yang dibicarakan dari usia 23 yang harus saya buat tempo hari di waktu pertama,” katanya.

Menurutnya, PSSI membutuhkan pemain usia di bawah 23 tahun dalam rangka Asian Games 2018 ini. “Mau saya suruh siapa yang main? Wartawan? Kan tidak bisa. Nah, dari mana saya akan talent scouting? Pasti di dalam klub. Klubnya siapa? Yaitu Liga 1,” Edy menjelaskan.

“Ya klub Liga 1 menekankan itu karena mereka ingin menang, tentu dia tak mau pakai usia ke bawah. Mereka mencari bagaimana supaya menang bila perlu pakai pemain-pemain dari luar seperti Michael Essein. Itu bisa sampai Rp 15 miliar loh satu pemain marquee. Kan mahal. Tapi setelah saya mendapatkan pemain-pemain ya kami kembalikan, kami pulihkan kepada tuntutan statuta dalam Liga 1. Bukan berubah tapi kami kembalikan,” Edy menegaskan.

“Lagipula Ketua PSSI ‘kan punya wewenang untuk mencari pemain. Tidak mungkin saya pakai Christian Gonzales untuk Asian Games lagi. ketentuannya kan U-22. Jadi itu yang diributkan wartawan jika berubah-ubah, bukan berubah. Itu adalah hak prerogatif PSSI untuk mencari pemain-pemain Indonesia,” kata dia.

(mcy/cas)